Tampilkan postingan dengan label Special needs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Special needs. Tampilkan semua postingan

IMPLIKASI TERHADAP STIMULASI DAN INTERVENSI PENDIDIKAN DALAM BENTUK PERMAINAN

Jumat, 03 Juli 2009

Mengenai tumbuh kembang anak ada dua faktor yang mempengaruhi yaitu faktor dari dalam (internal) dan faktor dari luar (eksternal). Faktor dari dalam antara lain disebabkan oleh ras, keluarga, umur, jenis kelamin, genetik dan kelainan kromosom. Sedang faktor dari luar antara lain faktor prenatal, persalinan dan pasca persalinan. Ada berbagai informasi yang dapat dijadikan sebagai panduan dalam melakukan pengawasan berat badan bayi antara lain ”Pada usia 5 bulan berat badan bayi akan menjadi 2 kali berat badan pada waktu lahir”. Untuk tinggi badan pada saat lahir bayi rata-rata mempunyai panjang sekitar 50 cm. Pada usia satu tahun akan menjadi 1,5 kali panjang badan pada saat lahir.

Untuk tumbuh kembang anak yang optimal harus dilakukan stimulasi. Stimulasi dapat dilakukan dengan Alat Permainan Edukasi (APE). Syarat APE yang baik adalah aman, desain harus jelas, mempunyai aspek pengembangan, ukuran dan berat APE harus sesuai dengan usia anak. Contoh APE antara lain bola (menstimulasi motorik kasar), pensil (motorik halus), puzzle dan buku gambar (kecerdasan kognitif). Peran orang tua sangat besar dalam tumbuh kembang anak baik stimulasinya maupun pengawasannya.

Beberapa contoh gangguan yang sering ditemukan dalam tumbuh kembang anak antara lain gangguan bicara dan bahasa, cerebral palsy, down syndrome, perawakan pendek, gangguan autisme, retardasi mental, gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH).

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan saat ini, intervensi dini dapat dilakukan, antara lain melalui konseling genetika, latihan, dan pemberian obat- obatan. Penderita SD perlu menjalani pemeriksaan teratur untuk mendeteksi masalah kesehatan secara dini, sebelum masalah tersebut menyebabkan kerusakan yang luas dan sulit ditangani.

Penderita hendaknya jongkok bila timbul sesak setelah melakukan aktivitas fisik Duduk dengan lutut dilipat ke arah dada, sehingga terjadi peningkatan tahanan terhadap darah yang berjalan dari jantung menuju tungkai bawah Pemberian oksigen bila sesak Tidak boleh mandi dengan air yang terlalu panas. Banyak minum untuk mencegah dehidrasi.

Di samping itu, sulit buang air besar atau konstipasi merupakan masalah umum penderita SD. Penatalaksanaan dengan diet banyak buah-buahan dan sayur-sayuran. Obat-obat pencahar dapat diberikan sesuai kebutuhan. Kulit kering, mengelupas, pecah-pecah atau gatal dapat ditangani dengan memasukkan sejumlah soda bikarbonat ke dalam air mandi.

Sistem pendengaran diperiksa pada usia 9 bulan sampai 1 tahun dan dilakukan rutin 1 tahun sekali sampai usia 10 tahun, karena kelainan yang tidak ditangani dapat menyebabkan ketulian, peradangan telinga tengah. Penderita lebih sering terkena infeksi saluran pernapasan karena adanya kelainan sistem pendengaran. Anak-anak SD dengan pemeriksaan radiologis yang abnormal pada tulang-tulang leher dianjurkan untuk:

Tidak melakukan aktivitas seperti senam, loncat indah, berenang gaya kupu-kupu, loncat tinggi, sepakbola, jungkir balik, berguling ke depan, menyelam. Olahraga yang dianjurkan adalah renang (kecuali gaya kupu- kupu) dan lari. Menggunakan sabuk pengaman bila bepergian dengan mobil. Diperiksa setiap 6 bulan untuk mendeteksi adanya gejala-gejala penekanan medulla spinalis. Dilakukan pemeriksaan radiologis setiap tahun.

Anak-anak SD biasanya dapat melakukan hampir semua aktivitas yang dapat dilakukan anak-anak lain pada umumnya, seperti berjalan, berkata-kata, memakai baju, namun lebih lambat dari anak-anak lain. Penanganan rehabilitasi medis sedini mungkin menunjukkan perkembangan anak yang lebih baik.

Mereka yang menerima intervensi dini memperoleh nilai 20 persen lebih tinggi pada uji kecerdasan yang dilakukan pada waktu masuk sekolah dibandingkan dengan anak yang tidak mendapatkan intervensi ini. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa dengan latihan yang dilakukan sejak dini, kurang dari 10 persen penderita SD menjadi retardasi berat.

Perkembangan motorik kasar merupakan bentuk perkembangan yang paling menonjol selama 2 tahun pertama kehidupan. Pada 4 minggu pertama, rangsangan untuk perkembangan motorik belum diperlukan. Yang penting adalah memuaskan kebutuhannya akan makanan, kehangatan, dan kenyamanan.

Postur dan gerak seorang penderita SD seringkali perlu dikoreksi. Otot yang lemah menyebabkan anak-anak SD sering duduk dalam posisi-W dan cenderung memiliki kaki yang datar. Anak-anak SD harus ditolong untuk melakukan gerakan yang tepat dengan memperhatikan postur dan lingkungan anak.

Bimbingan pengembangan perilaku non-adaptif anak tunagrahita dengan memanrfaatkan permainan teurapeutik dalam bentuk pembelajaran, khususnya dalam bimbingan pribadi social, akan berfokus [pada kegiatan gerak-motorik tubuh (body movement). Hal ini di dasari atas asumsi bahwa pertumbuhan gerak anak tunagrahita sangat memerlukan pengembangn gerak terhadap:

1) Fungsi persepsi sensorimotor

2) Fungsi intelektual

3) Fungsi emosi psikologis

4) Fungsi social

Layanan bimbingan pengembangan perilaku non-adaptif anak tunagrahita disekolah harus di arahkan kepada penguasaan kemampuan psikomotor terhadap gerak dasar tubuh yang kegiatan operasional yang mencakup:

1) Meneliti, menjelajahi potensi gerak tubuh

2) Mengembangkan perolehan pengalaman dari gerkan yang telah berhasil dilakukan oleh anak tunagrahita yang bersangkutan.

3) Mengembangkan kemampuan gerak dasar alami (locomotor)

4) Pengungkapan kerativitas masing-masing anak tuangrahita. (Jeffree,MCConkey &Henson, 1944).

Lebih lanjut lagi Jeffree,MCConkey &Henson, 1944), menyatakan bahwa permainan dapat meningkatkan perkembangan anak yang mempunyai hambantan fungsional tertentu adalah permainan yang dapat menghantarkan anak yang bersangkutan untuk mampu menguasai keterampilam-keterampilan baru, dan kemudian dikembangkan menjadi keterampilan khusus melalui pengalam bermain yang inisiatifnyz banyak dilakukan oleh anak itu sendiri.

Di bawah ini dalah enam jenis permaina yang sangat cocok dipergunakan dalam upaya pemberian bimbungan perkembangan perilaku adaptif:

1) Exploratory play atau permainan eksplorasi.

Suatu permaina yang member kesempatan terhadap anak untuk dapat menjelajahi lingkungannya.

2) Energetic play atau permainan enerjetik, permainan yang menggunakan seluruh enerjetik anak.

3) Skillful play atau permainan melatih ketermpilan, permaina yang berkaitan dengan ketermpilan baru.

4) Social play atau permainan sosilisasi, permainan yang meningkatkan kemampuan bersosialisasi.

5) Imaginative play atau permainan imajinasi, permainan berimaimajinasi untuk mengembangkan daya berfikir dan berbahasa.

6) Puzzle-it-out play atau permainan memecahkan masalah dengan permainan puzzle.

Interevensi yang baik untuk tunagrahita down syndrome yaitu mengintervensi dalam bentuk permainan, seperti dengan mmemberikan permainan congklak untuk melatih motorik halus ataupun kasar. Bentuk permainan itu masuk kedalam jenis permainan “Skillfull Play”, yaitu permainan yang berkaitan dengan kegiatan untuk melatih keterampilan baru yang dikuasai anak. Baik juga memberikan permainan air ,kerena sebagian besar tunagrahita DS tidak melakukan kegiatan yang mengeluarkan energi. Namun DS dapat melakukan kegiatan berjalan, melakukan kegiatan menolong diri seperti mamasukan baju, kaos kaki namun dengan keadaan lambat tidak separti anak normal lainnya.

Mengintervensi Tunagrahita Down Syndrom juga harus dilakukan dengan terus menerus juga membutuhakan ketelatenan untuk mengajarkan beberapa bina diri agar anak DS mampu melakukan kegiatan tersebut seperti anak biasa meskipun dengan lambat. Banyak permainan yang dapat dilakukan oleh anak-anak beerkebutuhan khusus misalnya, dengan melakukan permainan Imaginative Play. Jenis permainan ini bertujuan untuk mengembangkan daya fikir dan kemampuan bahasa anak tunagrahita down syndrome. Bentuk permainan imaginative play ini adalah seperti bermain berpuar-pura dann bermain cerita.

Contoh permainan ini bermain peran ayah dan ibu, bermain dengan boneka, bermain melengkapi gambar, menjadi pemain drama, bercerita dengan atau tanpa memakai gambar. Dengan melakukan permainan ini akan lebih mudah untuk mengajarkan bina diri dalam bentuk peran untuk memotivasi anak.

Read more...

Implementasi Psikologi Sosial dalam Mengembangkan Perilaku Adaptif Anak Tunagrahita


Pada hakikatnya tujuan pendidikan anak tunagrahita adalah mengembangkan interes sosial (social interest) yang ada pada siswa secara optimal.interes sosial ini sangat berpengaruh terhadap proses belajar mengajar, yang pada gilirannya akan mempengaruhi pencapaian tujuan pendidikan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, guru(pembimbing) seyogyanya menyusun proram bimbingan atau program latihan secara sistematis dan melaksanakannyasesuai dengan program yang telah dibuat. Dreikurs (Corey, 1991) mengemukakan empat komponen yang seyogyanya diperhatikan dalam menyusun program bimbingan, yaitu:

1) Tujuan

Mengembangkan minat sosial siswa(mau memberi dan menerima orang lain).

2) Kebutuhan siswa

Peneriman kasih sayan, perhatian, rasa aman, menerima pengakuan orang lain, dorongan untuk semakin mandiri, menerima kebebasan yang wajar dalam mengatur kehidupannya, membina persahabatan dengan teman sejenis dan lain jenisl serta memilki cita-cita yang pantas untuk di kejar.

3) Tugas perkembangan yang dihadapi siswa (Perilaku Adaptif)

Mengembangkan keterampilan-keterampialan sensorimotor, membina dan mengurus diri, mengembangkan keterampilan dasr membaca, menulis, dan berhitung, mengembangkan komunikasi dan berbahasa, mengembangkan ketempilan bersosialisasi, kesadaran moral, tanggung jawab, melepaskan emsi yang tidak diharapkan, serta mengembangkan keterampilan-ketermpilan kejuruan.

4) Pengumpulan data, Contoh: Program bimbingan untuk anak tunagrahita

a. Pengumpulan data melalui asesmen

b. Pemberian informasi dengan penekanan pada re-edukasi melalui: memberikan semangat dan menstimulasi keberanian, membantu siswa untuk membangun rasa percaya diri, meningkatkan kemauan untuk berbuat sesuatu yang konsisten.

c. Konsultasi, terutama antar guru (pembimbing) dan orang tua siswa.

Adapun prisedur pelaksanaan bimbigan yang dilakukan, Adler membangunnya berdasarkanempat fase (Corey,1991), yaitu:

    1. Mencipatakan hubungan baik antara guru dan siswa

Pengembangan minat sosial pada siswa akan terjadi secara efektif dalam interaksi dan transaksi yang sehat antara siswa dengan pembimbingnya. Interaksi yang diharapkan adalh interaksi yang didasai oleh rasa peduli, keter;ibatan dan persahabatan yang mendalam, sehingga siswa memandang pembingbing sebagai seorang sahabat yang mau di mintai bantuan bila di butuhkan, dan sebagai tempat bertanya. Selama fase ini, hubungan dilakukan dengan jalan mendengarkan, memberi tanggapan, menunjukkan silap hormat terhadap kemampuan yang dimiliki siswa, mendrong semangat dan menstimulasi keberaniannya.

    1. Mengindetifikasi dinamika siswa

a. Pada fase ini dilakukan dengan: pembimbing mengumpulkan informasi dalam rangka mengindetifikasi dinamika siswa. Hal ini dapat di lakukan melalui wawancara, observasi terhadap siswa dan keluarga terdekatnya seperti: orangtua, kakak, adik atau orang lain yang tinggalbersama.

b. Informasi yang dikumpulkan meliputu: gaya hidup siswa, tujuan hidup, serta faktor0faktor yang mempengaruhi perilaku siswa, kemampuan belajar saat ini kehidupan sosial siswa pada masa-masa dini, perilaku siswa dalam interaksinya(keluargadansekolah),terutama perilaku-perilaku yang ganjil.

c. Guru menganalisis dan menginterpensi data, sehingga dapat di temukan perasaan-perasaan infeoritas siswa dan usaha-usaha untuk menutupi perasaan tersebut dalam bentuk kompensai.

    1. Membangun semangat pengemabangan rasa menahan diri

Adler meyakini bahwa pematahan semangat adalah kondisi dasar yang mencegah berfunsinya seseorang. Sedangkan pembangkit semangat merupakan penangkalnya (Corey, 1991). Melalui fase ini siswa di gelitik untuk mengakui bahwa mereka memiliki kekuatan untuk memilih, untuk berbuat sesuatu dengan orang lain.

4. Menbantu siswa menentuakan pilihan-pilihan baru (Re-oriemtasi dan Re-edukasi).

Melakukan Re-oriemtasi dan Re-edukasiuu merupakan sasran utama dalam bimbingan. Tujuannya adalah agar siswa dapat didup di tengaha-tengah masyrakat yang mau memberi dan menerima orang lain. Oleh karena itu proses bimbingan berfokus pada penyediaan informasi, membimbing melatih siswa dengan memawarkan dorongan semangat kepada siswa.

Fase ni diarahkan pada perluasan minat sosial siswa, membantu siswa dalam mengatasi rasa rendah dirinya.

Hal pennting lain adalah memodifikasi pandangan siswa dengan mengubah hidup yang salah, melatih sisw dalm pemberian sumbangan yang lebih besar dalm hubungan antar persoanal, serta membant siswa sehingga mampu bergrak maju ke arah yang nyata.

Fase-fase tersebut tidaklah linier dan tidak bergerak maju dengan langkah-langkah yang kaku, melainkan merupakan suatu jalinan benabg yang nantinya akan membentuk sehelai kain.

Read more...

Psikologi Sosial

Psikologi sosial yang yang di pelopori oleh Alfred Adler ( 1870-1987) menjelaskan bahwa individu (In-divide) bersifat holistik. Artinya individu merupakan sistem keseluruhan atau sebagai satu kesatua yangutuh yang tidak dapat dipisahkan. Individu baru berarti, jika ia berintegrasi dengan lingkungannya. Karena itu, kepribadian seseorang akan terbentuk melalui proses sosialisasi.

Adler mengungkapkan bahwa manusia makhluk paling unik. Keunikan ini terwujud dalamgaya hidupnya (Bischop, 1970:171). Gaya hidup ini di bentuk sejak dini yaitu pada masa kanak-kanak antara usia 4-5 tahun. Tuga hal yang mempengaruhi gaya hidup individu, yaitu: perbedaan fisik, psikolgis, dan kondisi-kondisi sosial termasuk di dalamnya urutan kelahiran anak dan keluarga(Hall dan Lindzey, 1985:151-152).

Infeoritas dapat di artikan sebagai persaan ketidak sempurnaan atau ketidakterampilan manusia dalam menghadapi tugas-tugasnya. Perasaan infeoritas ini bukan merupakan gejala abnormal, sekalipun persaan ini mendominasi kehidupan psikis dan merupakan penyebab dari semua perbaikan posisi manusia.

Superioritas merupakan tahap kesempurnaan yang di capai individu dalam rangka mengatasi inferiotas-inferiotas yang dimiliki. Setiap manusia mempunyai dorongan untuk mencapai tujuan sehingga akhirnya merasa kuat, superior, dan sempurna. Cara individu dalammencapai superiotasnya bergantung pada kreativitas dirinya (creative self). Perilaku manusia tidak ditemukan oleh keturunan dan lingkungan, namun keduanya menjadi bingkai yang membatasi gerak manusia sesuai dengan daya kreatifnya (Corsini, 1984:59).

Creative self merupakan kemampuan individu dalam menghasilkan sesuatu yang baru berdasrkan hal-hal yang sudah ada. Creative self ini memberi warna pada kehidupan, menciptakan tujuan, dan merupakan alat untuk mencapai tujuan yang di inginkan (Hall dan Lindzey, 1985,:152). Creative self ini pula menggambarkan keunikan individu membentuk kepribadiannya sendiri berdasrkan kemampuan dan pengalamanya (Bischop, 1970:179).

Read more...

TEKNIK-TEKNIK PEMBENTUKAN PERILAKU ADAPTIF

Teknik-teknik Pembentukan Perilaku Adaptif ini dapat dilakukan dengan beberapa teknik yang masih dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi anak, dan melalui pendekatan secara terpadu (Integrated) dealam pembelajaran.

  1. Autobiografi: memberikan kesempatannya pada anak untuk menceritakan hidupnya, yang pada akhirnya dapat memberi indikasi tentang konsep diri. Bagi anak yang mengalami kesulitan dalam tulisan ekspresif dapat dimodifikasi melalui rekaman secara lisan.
  2. Sosimetrik: memungkinkan guru melihat, menilai bagaimana anak di pandang oleh teman sekelasnya.
  3. Bermain: melalui bermain dapat memenuhi “gairah diri”, memungkinkan anak untuk memperoleh kemampuan menguasai situasi tertentu, dan menjadikan anak mampu mengatasi konflik-konflik dirinya.
  4. Pendidikan bina diri
  5. Pendekatan Behavioral / Behavioral modification.

Read more...

Perilaku Adaptif

Definisi perilaku adaptif menururut beberapa para ahli yaitu sebagai berikut:

1. Menurut KELLY (1978)-Patton (1986)- Reynolds (19887) adalah: The efectiveness & degree to which an individual meets standards of self sufficiency & responsibility for his or her age- related cultural group ( Perilaku adaptif merupakan kematangan diri dan sosial seseorang dalam melakukan kegiatan umum sehari-hari sesuai dengan keadaan umur dan berkaitan dengan budaya kelompok).

2. Menurut MEYERS, NIHIRA, ZETLIN (1979) adalah adaptive behavior at the very legt refers to a subject's typically exhhibited competenciens in adjustment to the culture as expected for hi/her age level, in or out of school. To be adaptive in behavior presupposes that one possesses the potential to be adaptive, but the degree and quality of actual adaptive behavior are not idential with potential.

3. AAMD (1983) Adalah " The effectiveness or degree with which an individual meets standards of personal independence expected for age & cultural group" ( Keefektipan/tingkat kemampuan seseorang dalam memenuhi norma kebebasan pribadi sesuai dengan umur dan budaya kelompoknya.

Menurut AAMD (the American Association on Mental Deficiency) yang dikembangkan Heber (1959, 1961) yang direfisi oleh Grossman (1973, 1977, 1983), ada dua parameter dasar ketunagrahitaan, yaitu:

1. kecerdasaan di bawah rata-rata

2. gangguan tingkah laku adaptif

AAMD mengindikasikan bahwa masalah pada tingkah laku adaptif dapat dihasilkan dan dihubungkan dengan kecerdasan yang kurang. Hambatan utama tunagrahita yaitu:

1. skor intelligence quotient sebagai indicator fungsi intelektualya berada pada dua standar di bawah rata-rata normal >70 ke bawah.

2. hambatan perilaku non adaptif

3. terjadi selama perkembangan.

4. AAMR (1992) Adalah "adaptive beharvior, specifically, are the behavioral skills that are demonstrated in response to envirinmental demands" (AAMR,1992;Widaman & McGrew, 1996; dalam Smith, et.al.,2002:95)

Konsep perilaku adaptif atau adaptive behavior :

a. perilaku adaptif berfokus pada perilaku sehari-hari

b. Pemenuhan harapan masyarakat dan lingkungan dimana yang bersangkutan tinggal

c. Kemampuan mengatasi secara efektif keadaan yang tengah terjadi dalam masyarakat lingkungannya atau menyesuaikan diri.

Konsep kemampuan sosial tingkah laku adaptif dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menguasai tuntutan sosial dilingkungan mereka. salah satu karakteristik ketunagrahitaan adalah mengalami hambatan dalam perilaku adaptif. perilaku adaptif menjadi penting adanya ketika diperkenalkan kepada anak-anak tunagrahita yang sangat berbeda, baik dalam hal menolong dan mengurus diri sendiri maupun dalam hal keterampilan sosial. Diantara anak-anak tersebut, ada yang tidak atau kurang memiliki kemampuan dalam memenuhi tuntutan akademik disekolah, akan tetapi mereka cukup baik dalam kontak sosial disekolah maupun diluar sekolah, sehingga mereka mendapatkan julukan "the six-hour retarded child". Pada dasarnya mereka tidak tunagrahita, mereka adalah anak-anak yang miskin secara akademik namun secara sosial mereka masih mampu mengadakan peyesuaian. pada kenyataannya, ketika mereka meninggalkan sekolah, mereka mampu memperoleh pekerjaanl, bisa menikah dan mempunyai anak, dengan penghidupan yang cukup tanpa membutuhkan bantuan secara khusus. Tentu saja, bagi mereka yang mengalami kasulitan terutama yang berhubungan dengan aspek-aspek kehidupan dan pekerjaan, mereka sangat memerlukan pendidikan dan dukungan-dukungan secara khusus dalam membekali keterampilan-keterampilan hidupnya.

Sebagai mana pada intelegensi, disana terdapat suatu implikasi sosial yang secara signifikan berhubungan denga adaprtive beharvior. Grossman (AAMD, 1983) mengemukakan bahwa hambatan dalam perilaku adaptif didefinisikan sebagai keterbatasan-keterbatasan yang secara signifikan dalam ketidak efektifan individu untuk menemukan standar kematangan, belajara, pribadi yang mandiri, dan atau tanggungjawab yang diharapkan pada tingkat seusianya, serta kelompok budaya tertentu yang ditentukan oleh asesmen klinis dan umumnya menggunakan skala penilaian yang terstandar. Ini berarti bahwa ketidakmampuan dalam penyesuaian (Maladative) mengimplikasikan seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi tuntutan perilaku yang dikehendaki masyarakat.

Untuk mengukur perilaku adaptif digunakan skala penilaian perilaku adaptif. Salah satu contoh alat pengukuran perilaku adaptif, yaitu adaptive behavior scale yang disingkat ABS. ABS ini dipersiapkan oleh AAMD dan digunakan untuk mengakses perilaku adaptif anak-anak usia 3-6 tahun(ASHMAN, 1994;445). Bidang-bidang perilaku adaftif yang di ases meliputi dua bagian, yaitu:

  • Personal indenpendence dan dailiy living

Meliputi fungsi kemandiriaan yang mencakup makan, menggunakan toilet, keberhasilan, penampilan, memelihara pakaian, berpakaian dan pemeliharaannya, berpergian, serta fungsi kemandirian umum lainya.

Perkembangan fisik mencakup perkembangan sensori dan perkembangan motorik, aktivitas ekonomi yang mencakup penggunaan dan pengelolaan uang, dan berbelanja, perkembangan bahasa, misalnya ekpresi dan percakapan, aktivitas pre-vocational, self-direction, tanggung jawab dan sosialisasi.

  • Personality dan behavior disorders

Meliputi fungsi: aggressivenes, antisocial v. Social behavior, mannerisms, dan interpersonal manners.

Asesmen perilaku adaptif ini merupakan salah satu dasar kegiatan dalam upaya membina dan mengembangkan perilaku adaptif pada anak tunagrahita, khususnya dalam menggunakan pendekatan psikologi sosial.

Pada tahun 1981 mengalami revisi dan dan menghasilkan ABS-SE(Adaptive Behavior scale School Edition), yang terdiri dari 2 bagian:

1. Mengevaluasi ketermpilan individu pada perilaku adaptif yang berhubungan dengan personal & community self-suficiency& personal social responsibility (tanggung jawab pribsdi dan sosial).

2. Mengukur tipe perilku maladaptif yang berhubungan dengan penyesuaian diri dan sosial.

Read more...

  © Blogger templates Newspaper II by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP